Gempaar Siswi SM4 Melahirkan Didalam Kelas, Begin!Reaksi Sang Guru Tuai Banyak Pujian

Menu Atas

Recent Posts

IKLAN RENPONSIF

Gempaar Siswi SM4 Melahirkan Didalam Kelas, Begin!Reaksi Sang Guru Tuai Banyak Pujian

Peristiwa yang terjadi di Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah ini harus menjadi pembelajaran bagi orang tua untuk terus mengawasi pergaulan anak.

Sebab, pergaulan anak zaman sekarang memang sering melampaui batas. Misalnya, R (17). Dia harus menderita karena gaya berpacaran.
Bocah yang baru  (SMA) itu melahirkan bayi hasil buah cintanya dengan M. Usia yang masih sangat muda membuat R tak sanggup menahan beban sendirian.
Dia akhirnya memilih membuang bayi berjenis kelamin laki-laki itu perkebunan kelapa sawit di Desa Sebabi, Kecamatan Telawang.
Namun, ulahnya ternyata terendus pihak berwajib. Dia akhirnya ditangkap.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, R merupakan anak karyawan di perkebunan tersebut. Sedangkan M adalah perantau asal Kupang yang bekerja di perkebunan itu.
Saat R hamil, M malah tak mau bertanggung jawab. M memilih kembali ke kampung halamannya.
Hal itu membuat R menanggung beban sendirian. Saat melahirkan, R juga tak ditemani siapa pun.

Pasalnya, tak ada yang mengetahui bahwa dirinya tengah berbadan dua. Saat itu, R sedang berjalan sekitar 150 meter dari rumahnya. Tiba-tiba dia merasa sakit perut.
R memutuskan duduk. Rupanya, janin yang ada di perutnya malah keluar. R akhirnya memilih meninggalkan bayi itu tidak jauh dari tempatnya melahirkan.
”Berkat penyelidikan yang dilakukan anggota, akhirnya kami berhasil mengungkap pelaku. Saat ini, pelaku tidak ditahan namun dititipkan kepada orang tuanya karena merupakan anak di bawah umur,” jelas Kapolres Kotim AKBP Muchtar Supiandi Siregar sebagaimana dilansir Prokal, Jumat (7/7).
Pelaku dijerat pasal 308 dan pasal 77 undang-undang nomor 35 tahun 2004 tentang Perlindungan Anak. Proses hukum akan tetap dilakukan meskipun pelaku anak di bawah umur.
Hal itu juga untuk memberikan efek jera terhadap warga lainnya agar tidak melakukan tindakan serupa.
”Untuk kasus pembuangan bayi lainnya kami  juga akan tetap berupaya melakukan pengungkapan. Sebab, menjadi tugas kami untuk menuntaskan kasus tersebut. Masyarakat yang mengetahui informasi kami minta untuk berkoordinasi dengan kami,” kata Muchtar.
Sumber: jpnn.com
The incident that occurred in Kotawaringin Timur (Kotim), Central Kalimantan must be a lesson for parents to continue to monitor children's relationships. The results of images for high school children giving birth in class Because, the association of children today indeed often exceeds the limit. For example, R (17). He must suffer because of his dating style. The new boy (SMA) gave birth to a baby the result of his love with M. Very young age makes R unable to bear the burden alone. He finally chose to dispose of the male baby's oil palm plantation in Sebabi Village, Telawang District. However, his act was discovered by the authorities. He was finally arrested. Based on information gathered, R is the son of an employee at the plantation. While M is a migrant from Kupang who works on the plantation. When R got pregnant, M didn't even want to take responsibility. M chose to return to his hometown. That makes R bear the burden alone. When giving birth, R was also not accompanied by anyone. PROMOTED CONTENTMgid The reason is, nobody knows that he is in the middle of two entities. At that time, R was walking about 150 meters from his house. He suddenly felt a stomachache. R decided to sit down. Apparently, the fetus in his stomach instead came out. R finally chose to leave the baby not far from where he gave birth. "Thanks to an investigation by the members, we finally succeeded in uncovering the perpetrators. At present, the perpetrators are not detained, but are left with their parents because they are minors, "said Chief of Police AKBP Kottar Muchtar Supiandi Siregar, as reported by Prokal, Friday (7/7). The perpetrators were charged under article 308 and article 77 of law number 35 of 2004 concerning Child Protection. The legal process will continue even if the perpetrators of minors. It was also to provide a deterrent effect on other residents so as not to take similar actions. "For other cases of baby disposal, we will also continue to make disclosures. Because, it is our duty to resolve the case. People who know the information we ask to coordinate with us, "Muchtar said. Source: jpnn.com